Jumat, Juli 03, 2009

AGAMA DAN MASYARAKAT

Haris El Mahdi
WACANA AGAMA DALAM SOSIOLOGI
Emile Durkheim, sosiolog asal Perancis, mendefinisikan agama sebagai (Turner, 1984 : 18) :

“Suatu sistem terpadu tentang kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek khusus terhadap benda-benda suci, atau dengan kata lain, hal-hal yang tersendiri dan terlarang. Kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek tersebut menyatu ke dalam suatu komunitas moral yang dinamakan Gereja, yang mana semua orang tunduk kepadanya.”

Dari pandangan Durkheim di atas, terdapat dua hal yang menjadi watak khas dari agama, yaitu : (1) adanya kepercayaan yang kuat terhadap benda-benda suci, atau sesuatu yang disucikan, dan (2) adanya parktek-praktek khusus (baca : ritual keagamaan) terhadap benda-benda suci atau sesuatu yang disucikan tersebut. Dua hal ini, menyatu terpadu dalam sebuah tatanan komunitas moral (Gereja).

Sementara itu, dengan tetap berpijak pada pola berfikir Durkheim, Koentjaraningrat (1994 : 144 – 145) mengemukakan bahwa tiap religi merupakan suatu sistem yang terdiri dari empat komponen, yaitu :

  1. Emosi keagamaan yang menyebabkan manusia bersikap religius;
  2. Sitem keyakinan yang mengandung segala keyakinan serta bayangan manusia tentang sifat-sifat Tuhan, tentang wujud dari aam ghaib (Super-natural), serta segaa nilai, norma dan ajaran religi yang bersangkutan;
  3. Sistem ritus dan upacara yang merupakan suatu usaha manusia untuk mencari hubungan dengan Tuhan, dewa-dewa, atau makhluk-makhluk yang mendiami alam ghaib;
  4. Umat atau kesatuan sosial yang menganut sistem keyakinan tersebut daam poin 2, danyang meaksanakan sistem ritus dan upacara, sebagaimana tersebut dalam poin .

Keempat komponen tersebut terjalin erat satu dengan yang lain menjadi suatu sistem yang terintegrasi secara bulat-terpadu.

Pemaknaan tentang agama serta komponen-komponen yang melingkupinya, seperti tertuang dalam penjelasan di atas, memberi kita pemahaman bahwa agama (atau religi) merupakan sebuah fenomena religius atau bahkan fakta sosial di masyarakat. Masyarakat apapun dan dimanapun, dalam sejarah kehidupannya pasti mengenal ajaran-ajaran agama.

Hal ini ditegaskan oleh Talcott Parsons yang menjelaskan bahwa signifikansi utama karya Durkheim tentang agama primitif adalah pengakuannya bukan bahwa “agama merupakan fenomena sosial” tetapi bahwa “masyarakat adalah fenomena religius” (Hammond, 2003 : 209). Namun demikian, fungsi dan peranan agama di masyarakat tidak selalu bermakna positif. Kutipan berikut dapat memberi penjelasan mengenai tidak positifnya peran dan fungsi agama di masyarakat (Lauer,1989: 254) :

“…..Selama abad pertengahan, kalangan pendeta menggunakan ideologi keagamaan sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan lebih besar dan karena itu menghalangi terjadinya perubahan. Kemajuan ekonomi diperlambat dengan menyatakan membungakan uang sebagai perbuatan riba yang penuh dengan dosa. Surplus kekayaan cenderung disalurkan untuk membeli barang-barang perhiasan, aktivitas sopan santun, membangun bangunan keagamaan dan istana. Dengan kata lain, surplus kekayaan tidak ditanamkan dalam usahan perdagangan dan industri melainkan tersedot ke dalam aktivitas keagamaan yang tidak produktif yang diyakini akan menimbulkan kasih sayang Tuhan. Akibatnya, sekitar penghujung abad pertengahan, tekhnik penyediaan air minum dan sanitasi (yang telah dibangun orang Romawi jauh sebelumnya) masih belum digunakan. Kota-kota dipadati oleh bangunan keagamaan yang sering boros, kotor, jalan raya tanpa perencanaan dan struktur bangunan yang sembrono….."

Masalah ini pula yang disinggung oleh Veblen (1953 :201) dalam kritiknya tentang agama dengan menyatakan bahwa seluruh perangkat dan aktivitas yang berkaitan dengan agama pada dasarnya adalah pemborosan yang sangat mencolok. Lebih lanjut Veblen menegaskan, “konsumsi barang dan upaya untuk melayani kepentingan yang bersifat Ketuhanan berarti mengurangi vitalitas komunitas.” Hal inilah yang menyebabkan agama menjadi sesuatu yang dianggap tak dapat menuntaskan permasalahan-permasalahan kemanusiaan/masalah duniawi. Situai agama yang terlampau “mengawang” inilah yang dilukiskan oleh Karl Marx dan Engels (1977 : 42) dalam artikelnya, sebagai berikut : "

"Religion is the sign of oppressed creature, the heart of heartless world, just as it is spirit of spiritless situation. It is the opium of the people.”

Pandangan Marx dan Engels di atas, dipertegas oleh A.N. Wilson dalam sebuah buku tukisannya berjudul : Against Religion : Why We Should Try to Live Without It ? sebagai berikut (Rahman, 1995 : XXV) sebagai berikut :

“Marx menggambarkan agama sebagai candu rakyat; tetapi agama,” kata Wilson, jauh berbahaya daripada candu. Agama tidak membuat orang tertidur. Agama mendorong orang untuk menganiaya sesamanya, untuk mengungkapkan perasaan dan pendapat mereka sendiri atas pendapat dan perasaan orang lain, untuk mengklaim bagi diri mereka sendiri sebagai pemilik kebenaran.”

Namun demikian, adanya beberapa kritikan yang tajam terhadap eksistensi agama sebagaimana dikutip dalam tulisan di atas, bukan berarti bahwa agama tidak mempunyai peran positif sama sekali dalam kehidupan bermasyarakat. Analisis Webber dalam buku The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, agaknya merupakan suatu usaha ilmiah untuk menjelaskan pengaruh positif agama (Protestant Calvinis) terhadap tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai positif dari kapitalisme.

Fakta lain yang menunjukkan bahwa agama mempunyai peran dan fungsi yang positif dalam tata kehidupan msyarakat adalah pengaruh agama Islam terhadap perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat Eropa Barat di abad Pertengahan. Masyarakat Eropa Barat yang masih barbarian saat itu, banyak belajar kepada orang Islam yang dianggap sebagai golongan yang mempunyai tingkat peradaban tinggi. Secara jelas, hal ini disimpulkan oleh Montgomery Watt (1972 : 84) sebagai berikut :

“When one keeps hold of all the facets of the medieval confrontation of Christianity and Islam, it is clear that the influence of Islam on western Christendom is greater than is usually realized. Not merely did Islam share with western Europe many material product and technological discoveries; not merely did it stimulate Europe intellectually in the fields of science and philoshopy; but it provoken Europe into forming a new image of itself. Because Europe was reacting against Islam it belittled the influence of Saracens and exaggerated its dependence on its Greek and Roman heritage. So today an important task for us Western Europeans, as we move into the era of the one world is the correct this false emphasis and to acknowledge fully our debt to the Arab and Islamic world.”

Singkatnya, setiap agama mempunyai kesempatan untuk menampilkan citra yang positif atau negatif dalam realitas kehidupan bermasyarakat. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kualitas pemahaman masing-masing pemeluk agama dalam menyerap pesan-pesan spiritual dari ajaran agama yang dia anut. Pernyataan ini perlu digaris-bawahi karena setiap agama pasti menghendaki sebuah tata sosial kemasyarakatan yang teratur, baik dan beradab.

Lebih lanjut – seperti yang telah disinggung di atas – eksistensi agama merupakan sebuah fakta sosial yang keberadaannya tak bisa dipisahkan dari masyarakat dengan cara apapun. Setiap usaha untuk menjauhkan masyarakat dari diskursus tentang agama pasti akan menimbulkan pertentangan atau konflik sosial. Langkah bijak secara ilmiah adalah dengan menganalisis agama dalam kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat; baik pola hubungan antar intern pemeluk agama yang bersangkutan maupun hubungan antar pemeluk agama dan agama dalam kaitannya dengan konsep-konsep ketuhanan. Bertitik-tolak dari pemahaman tentang doktrin keagamaan secara obyektif, kita dapat menganalisis secara lebih utuh tentang berbagai bentuk prilaku-prilaku sosial para penganut sebuah ajaran keagamaan.

AGAMA SEBAGAI PRODUK KEBUDAYAAN TIMUR
Adalah sebuah fakta historis bahwa seluruh agama-agama besar dunia; lahir, tumbuh dan berkembang dari rahim peradaban Timur (atau lebih tepatnya Asia). Terdapat dua titik sentral peradaban timur yang banyak melahirkan agama (besar) tersebut, yaitu : 1) Timur-Tengah (dan Asia Selatan) yang melahirkan agama : Yahudi, Nasrani, Islam, Hindu dan Budha, dan 2) Timur-Jauh yang melahirkan agama : Tao(isme), Kong Hu Cu (Konfusianism), dan Shinto. Dari titik-titik sentral inilah agama lahir dan tumbuh menjadi bagian dari sejarah umat manusia.

Kenyataan historis tersebut menandaskan bahwa agama dan kebudayaan Timur adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan satu sama lainnya, ibarat dua sisi koin mata uang. Kebudayaan Timur telah sedemikian rupa menghasilkan agama dan sebaliknya agama telah menjadi urat-nadi kehidupan kebudayaan Timur. Dalam bahasa lain, eksistensi kebudayaan Timur (baca : Asia) tak bisa dilepaskan dari kehidupan religius. Hal inilah yang sekaligus menjadi argumentasi bahwa pertentangan terhadap agama tidak lahir dari Asia melainkan dari Eropa – melalui jargon renaissance dan humanismenya.

Fakta historis lain menunjukkan bahwa wilayah Timur-Tengah dan Timur-Jauh merupakan titik-titik sentral lahirnya peradaban-peradaban agung dan tertua dunia. Di Timur-Tengah lahir peradaban : Mesir, Babylonia, Sumeria, Mohenjao Daro dan Harrapa, sedangkan dari wilayah Timur-Jauh lahir sebuah peradaban yang menembus berbagai rentang abad, yaitu peradaban Cina. Peradaban-peradaban tersebut di masanya telah menghasilkan kebudayaan yang agung dengan bertumpu pada agama, ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Fakta historis ini sekaligus menunjukkan bahwa Timur (Asia) mempunyai usia kesejarahan yang lebih panjang dibanding Barat (Eropa). Oleh karena itu wajar bahwa nation-state yang terbentuk di wilayah Asia mempunyai akar-akar historis yang sangat kuat dibanding nation-state yang terbentuk di wilayah Barat.

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa Timur (Asia) merupakan wilayah geografis yang sangat eksotis, mistik, spiritualism, dan natural. Pondasi utama setiap kebudayaan yang lahir dari Timur pasti bernuansakan eksotisme, mistis, dan spiritualism. Dalam bahasa lain, agama mempunyai pengaruh yang luar biasa menumbuh-kembangkan kebudayaan di wilayah Timur.

BACK TO EAST, BACK TO SPIRITUALITY
Eksistensi agama – setelah melewati rentang sejarah – ternyata tidak pernah pudar. Di era post-industrial saat ini, kerinduan manusia untuk kembali menengok ajaran-ajaran keagamaan sangat tampak terasa. Jargon yang berbunyi : BACK TO EAST atau BACK TO NATURE sebenarnya membawa pesan eksplisit bahwa manusia rindu untuk kembali kepada agama atau spritualitas. Menurut Sorokin, kerinduan ini merupakan fase alamiah dalam perjalanan kesejarahan manusia. Ungkapan paling terasa mengenai hal ini dapat disimak dalam pernyataan E.F. Schumacher dalam buku A Guide For Thr Perplexed, sebagai berikut (Hidayat & Nafis: 1995, xvii) :

“Mungkin saja dapat dibayangkan hidup tanpa gereja; tapi mustahil hidup tanpa agama, yaitu tanpa kerja sistematis, memelihara hubungan dengan dan berkembang ke arah Tingkat-Tingkat yang Lebih Tinggi ketimbang tingkat “kehidupan sehari-hari”, dengan segala kesenangan dan kepahitannya, sensasi dan kepuasannya, kehalusan dan kekasarannya – apapun jua adanya. Percobaan modern untuk hidup tanpa agama telah gagal, dan sekali lagi kita memahami hal ini, kita pun lalu tahu apa sesungguhnya tugas “pasca-modern” kita.”

Schumacher benar bahwa eksperimen modern (baca : Barat) untuk menata kehidupan dengan meninggalkan agama telah mengalami kegagagalan. Kegagalan Barat ini direkam secara provokatif oleh Fritjof Capra (2000 : 3) sebagai berikut :

“Pada awal dua dasawarsa terakhir abad kedua puluh, kita menemukan diri kita berada dalam suatu krisis global yang serius, yaitu suatu krisis kompleks dan multidimensional yang segi-seginya menyntuh setiap aspek kehidupan kesehatan dan mata pencaharian, kualitas lingkungan dan hubungan sosial, ekonomi, tekhnologi, dan politik. Krisis ini merupakan krisis dalam dimensi-dimensi intelektual, moral dan spiritual; suatu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan sejarah umat manusia. Untuk pertamakalinya kita dihadapkan pada ancaman kepunahan ras manusia yang nyata dan semua bentuk kehidupan di planet ini.”

Krisis global, kompleks dan multidimensional inilah yang makin menyadarkan manusia modern adanya sebab-sebab yang bersifat transedental, sebab-sebab cara pandang manusia terhadap alam ini. Dunia dan kehidupan modern ternyata telah kehilangan horizon spiritual.

Modernisme telah membawa manusia untuk menuhankan ilmu-pengetahuan dan tekhnologi, melupakan agama dan the real I-nya. Akibatnya, manusia modern menjadi sibuk memuja materi (materialism) dan melupakan esensi sangkan-paran kehidupannya. Secara spesifik, manusia modern tak bisa secara tepat mendefinisikan tentang Who Am I ?, siapa saya ? siapa manusia ? apa tujuan manusia hidup ? dan sederet pertanyaan-pertanyaan filosofis lainnya, yang meskipun sederhana ternyata tidak ditemukan jawaban yang memuaskan. Max Scheeler, filsuf Jerman abad 20 menguraikannya sebagai berikut (Rahman, 1995 : xviii) :

“Tak ada periode lain dalam pengetahuan manusiawi, di mana manusia semakin problematis bagi dirinya sendiri, seperti pada peride kita ini. Kita punya antropologi ilmiah, antropologi filosofis, antropologi teologis yang tak saling mengenal satu sama lain. Tapi kita tak mempunyai gambaran yang jelas dan konsisten tentang manusia. Semakin bertumbuh dan banyaknya ilmu-ilmu khusus yang terjun mempelajari manusia, tidak menjernihkan konsepsi kita tentang manusia malah sebaliknya semakin membingungkan dan mengaburkannya.”

Manusia modern – selama berabad-abad – berada di pinggiran eksistensi dirinya. Filsafat Cartesian yang menjadi “inspirasi” peradaban Barat telah membawa manusia menjauh dari kefithrahan dan ketentraman hidup.

Tingginya tingkat kriminalitas, perceraian, polusi; bahaya perang nuklir dan biokimia, pencemaran limbah industri, rusaknya lingkungan alam, epidemi penyakit, hancurnya moralitas, korupsi, pengangguran, kemiskinan dan hilangnya nilai-nilai luhur kemanusiaan merupakan fakta-fakta konkret menjauhnya manusia dari kehidupan yang tentram-damai. Sederet permasalahan modernitas inilah yang menjadikan hati manusia modern gersang, kering, dan gelisah. Hal inilah yang mendorong semakin banyaknya manusia modern lari kepelukan aktivitas spiritualitas. Yoga, studi-studi tasawuf, olah pernafasan, kelompok-kelompok pengajian keagamaan, dan bahkan sekte-sekte spiritualitas (seperti : Sekte Rumah David dan Sekte Lia Eden) menjadi pilihan alternatif untuk menemukan kembali ketentraman hati dan kedamaian hidup.

MASYARAKAT SEBAGAI FENOMENA RELIGIUS
Di atas, penulis telah mendiskusikan bahwa betapapun modernitas – selama berabad-abad – telah berusaha membawa manusia meninggalkan agama, namun di penghujung akhir abad 20 terdapat sebuah kesadaran kolektif umat manusia bahwa tak mungkin hidup tanpa agama. Tak mungkin hidup tanpa sosok individu yang harus disembah dan dijadikan sumber pengharapan (sekaligus inspirasi). Konsepsi tentang Tuhan (God, Ilah) muncul dan berkembang dalam konteks kebutuhan naluriah manusia untuk menggantungkan hidup pada Individu “supra-inderawi” – meminjam istilah Arnold Toynbee – Individu yang berada di luar jangkuan manusia, absolut, dan mempunyai segala ke-Maha-annya.

Tuhan hadir dan dibutuhkan manusia untuk menentramkan hatinya (soul-nya). Modernisme mengklaim bahwa selama manusia bisa mencukupi dan menyelesaikan masalah hidupnya ia tak butuh lagi Tuhan. Tekhnologi diciptakan untuk menggantikan peran Tuhan dalam menentramkan hati manusia. Tetapi, ternyata klaim modernisme tersebut tidak terbukti benar. Fakta kekinian menunjukkan bahwa betatapapun ilmu-pengetahuan dan tekhnologi telah mengalami kemajuan yang luar-biasa dahsyatnya, namun permasalahan manusia juga mengalami kemajuan yang luar-biasa kompleksnya. Para ilmuwan – seberapapun pandainya – tak sanggup lagi menuntaskan permasalahan kompleks ini, meskipun mereka saling bekerja-sama. Capra (2000 : 9), secara cerdas mengungkapkannya sebagai berikut :

“Adalah suatu tanda zaman yang mengejutkan bahwa orang-orang yang seharusnya ahli dalam berbagai bidang tidak lagi mampu menyelesaikan masalah-masalah mendesak yang telah muncul di dalam bidang keahlian mereka. Ekonom tidak mampu memahami inflasi, onkolog sama sekali bingung tentang penyebab kanker, psikiater dikacaukan oleh schizofrenia, polisi tak berdaya menghadapi kejahatan yang meningkat, dan lain sebagainya.”

Akhirnya, seperti telah diungkap oleh Talcott Parsons bahwa masyarakat sejatinya adalah sebuah fenomena religius. Kereligiusitasan ini terungkap dari fakta bahwa masyarakat selalu berusaha untuk memuja hal-hal yang luar-biasa, seperti : alam (matahari, laut, api, gunung, dst), tokoh-tokoh spiritual kharismatik, tekhnologi atau Individu “Supra-Inderawi” yang diidentikkan dengan nama Tuhan. Dan, kekacauan besar – atau The Great Disruption menurut istilah Francis Fukuyama – modernisme mendorong manusia untuk mencari The Real God. Tuhan Sejati yang layak untuk disembah dan sekaligus merindukan The Real Religion, agama sejati yang menjadi aturan hidup.

DAFTAR PUSTAKA

Capra, Fritjof, Titik Balik Peradaban ( Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan), edisi terjemahan, Bentang Budaya, Jogjakarta, 2000

Hammond, Phillip E, Pluralisme dan Hukum dalam Pembentukan Agama Sipil Amerika, dalam Robert N Bellah, et. al, Varieties of Civil Religion, Beragam Bentuk Agama Sipil dalam Beragam Bentuk Kekuasaan Politik, Kultural, Ekonomi, dan Sosial, Ircisod, Jogjakarta, 2003

Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan (Bunga Rampai), PT. Gramedia, Jakarta, 1994

Lauer, Robert. H, Prespektif Tentang Perubahan Sosial, Bina Aksara, Jakarta, 1989

Marx, Karl, dan F. Engels, On Religion, Schocken Books, New York, 1977

Rahman, Budhy Munawar, Kata Pengantar dalam Komaruddin Hidayat dan Muhammad Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan Prespektif Filsafat Perennial, PARAMADINA, Jakarta, 1995

Smith, Donald Eugene, Agama dan Modernisasi Politik (Suatu Kajian Analitis), CV. Rajawali Press, Jakarta, 1985

Turner, Bryant, Sosiologi Islam, Suatu Telaah Analitis atas Thesa Sosiologi Webber, CV. Rajawali, Jakarta, 1984

Veblen, Thorstein, The Theory of the Leisure Class, Mentor Books, New York, 1953

Veeger, K.J, Realitas Sosial: Refleksi Filsafat Sosial atas Hubungan Individu-Masyarakat dalam Cakrawala Sejarah Sosiologi, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1985

Watt, Montgomery, The Influence of Islam on Mediaveal Europe, Edinburg University Press, Edinburg, 1972

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar